Redaksi | Pedoman Media Siber | Disclamair | Kontak
Jawaban Praperadilan Polres Pelalawan Pada Perkara KDRT Dinilai Aneh

Sona Halawa
Rabu, 28 Apr 2021 02:10 WIB | dilihat: 4849 kali
Foto: Praperadilan lanjutan KDRT

Pelalawan, Newsokemedia.com - Sidanglanjutan praperadilan perkara KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) Rabu (28/4/2021) kembali digelar di Pengadilan Negeri Kabupaten Pelalawan. Agenda sidang lanjutan praperadilan itu, mendengarkan tanggapan dari pemohon/penggugat atas jawaban yang telah disampaikan oleh termohon (Polres Pelalawan) pada sidang pertama Senin (27/4/2021).

Tanggapan pemohon yang dibacakan oleh Hendri Siregar menyampaikan bahwa pengakuan termohon atas pemukulan yang dilakukan oleh tersangka kepada korban bernama Itdayani sudah mendekatai tujuan. Yaitu, memgakui adanya tindakan kekerasan yang dilakukan pelaku terhadap korban, sebab pengakuan tersebut sangatlah berhubungan dan bermanfaat pada persidangan perkara KDRT nantinya.

Kemudian, pengakuan termohon bahwa peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh Rusdianto terhadap korban disaksikan oleh Komeng. Sementara ketika dilakukan konfrotir antara korban dengan Komeng yang notabenenya sebagai anggota Rusdianto di kantor Polres Pelalawan beberapa waktu lalu, didepan penyidik Komeng mengaku tidak melihat adanya pemukulan yang dilakukan oleh Rusdianto kepada Itdayani, pungkas pengacara itu dihadapan hakim Alvin Ramadhan Nur Luis SH MH.

Lanjut Hendri Siregar, penyitaan satu unit mobil merek Daihatsu BM 1262 VX sebagai barang bukti, dilakukan oleh termohon setelah kami mengajukan atau mendaftarkan gugatan permohonan praperadilan di Pengadilan Negeri Pelalawan. Padahal saya selaku pemohon telah berdebat alot dengan penyidik untuk meminta menyita mobil tersebut sebagai barang bukti, namun penyidik Polres Pelalawan bersikeras mengatakan bahwa mobil itu tidak perlu disita. Sehingga sebagai kuasa hukum langsung berkoordinasi dengan pihak kejaksaan Negeri Pelalawan agar memberi petunjuk kepada penyidik untuk menyita mobil tersebut, tandasnya.

Sedangkan penangguhan penahan tersangka Rusdianto dalam jawaban yang disampaikan oleh termohon dipertanyakan oleh Hendei Siregar SH. "Bagaimana mungkin termohon melakukan penangguhan penahanan tersangka Rusdianto, dengan dasar surat permohonan penangguhan penahanan tgl 30 Maret 2021 yang diajukan oleh istri sah tersangka, sedangka tersangka Rusdianto belum pernah ditahan oleh Polres Pelalawan. Argumentasi hukum termohon itu hal yang sangat aneh dan dimana letak logika hukumnya,"? ujar Hendri mempertanyakan penuh heran.

Dikatakannya, terkait dengan visum yang dilakukan oleh pihak rumah sakit umum Selasih, Pangkalan Kerinci, banyak kelemahannya. Salah satu kelemahan visum tersebut yakni hanya dilakukan pemeriksaan pada tubuh bagian luar dari korban. Sementara tubuh korban dibagian dalam juga diduga mengalami luka akibat pemukulan yang dilakukan oleh tersangka. Bahkan korban mengalami pendarahan sampai keguguran janin dalam kandungannya.

Bukankah keberatan pemohon ini sangat berdasar sekali? Mengapa dan ada apa begitu susahnya termohon untuk meminta dan menjadikan pemeriksaan medis rumah sakit Bhayangkara Pekanbaru tersebut menjadi sebagai hasil visum et repertum yang dapat saling melengkapi pembuktian nantinya,? ucap Hendri kembali mempertanyakan kinerja penyidik Polres Pelalawan dalam menangani perkara tersebut.

Masih kuasa hukum korban KDRT itu, pemeriksaan psikologi korban dan anaknya, dilakukan oleh termohon setelah kuasa hukum pemohon menyurati pihak Polres Pelalawan dengan tembusan disampaikan kepada ketua Pengadilan Negeri Kabupaten Pelalawan dan kepala Kejaksaan Negeri Pelalawan. Lebih anehnya ketika pemohon membuat laporan polisi di Polres Pelalawan tidak diterima saat itu, malah hanya sebagai Dumas (pengaduan masyarakat) saja. Sehingga korban berpraduga sangka bahwa ada pelemahan perkara KDRT yang dialami oleh korban menjadi perkara tindak pidana penganiayaan biasa saja. Pada hal diduga kuat akibat dari perbuatan tersangka, korban mengalami keguguran. Kemudian anak korban yang berumur 6,5 tahun sudah mengalami trauma. Apa lagi tersangka tidak ditahan oleh Polres Pelalawan, papar Hendri Siregar.

Maka dalam kesempatan itu Hendri Siregar memohon kepada hakim memerintahkan Polres Pelalawan untuk untuk menjadikan hasil pemeriksaan medis dari rumah sakit Bhayangkara Polda Riau menjadi visum et repertum. Kemudian Hendri Siregar meminta supaya Polres Pelalawan segera menahan tersangka, pinta berharap.

Hendri Siregar SH yang ditemui usai digelar sidang lanjutan praperadilan itu menyampaikan, hari ini telah dilaksanakan sidang lanjutan praperadilan dengan agenda pembacaan replik atas jawaban termohon  praperadilan. Hal penting yang menjadi perhatian khusus dari saya selaku kuasa hukum korban atas jawaban Termohon polres Pelalawan, yaitu mengenai penangguhan penahanan yang diberikan termohon (Polres Pelalawan) terhadap tersangka Rusdianto. Dimana Termohon menyebutkan bahwasanya penangguhan penahanan dikabulkan atas dasar penilaian subjektif Termohon Polres Pelalawan karena atas dasar surat permohonan penangguhan dari istri tersangka Rusdianto. 

Menurutnya itu hal yang sangat aneh dan tidak wajar apabila Termohon polres Pelalawan memberikan penangguhan penahanan terhadap tersangka. Sementara tersangka Rusdianto tidak pernah ditahan. Logika hukumnya seharusnya tersangka Rusdianto ditahan terlebih dahulu, baru kemudian dilakukan penangguhan penahanan, ujarnya. 

Saya selaku kuasa hukum pemohon akan menindak lanjuti keanehan tersebut dengan upaya-upaya hukum lainnya, tegasnya. Kita akan lihat dulu duplik dari Termohon polres Pelalawan yang akan diajukannya pada agenda sidang selanjutnya pada hari Kamis besok tanggal 29 April 2021, ujarnya mengakhiri. (Sona)



Rekomendasi untuk Anda


Connect With Us





Copyright © 2020 news oke media
All right reserved